Ajax Tersingkir dari Liga Europa Setelah Kekalahan Telak 4-1 di Frankfurt
Pada pertandingan leg kedua babak 16 besar Liga Europa musim 2024/2025, Ajax Amsterdam mengalami kekalahan telak 4-1 di markas medusa88 Eintracht Frankfurt, yang membuat mereka tersingkir dari kompetisi tersebut. Kekalahan ini menambah derita tim asal Belanda yang tampil buruk sepanjang pertandingan. Meski tampil dengan skuad yang banyak mengalami perubahan, Ajax gagal menunjukkan performa terbaik mereka dan harus merelakan peluang untuk melaju lebih jauh di turnamen Eropa.
Latar Belakang Pertandingan
Pada leg pertama yang berlangsung di Amsterdam, Ajax sudah mendapat hasil yang buruk, hanya bermain imbang 1-1 dengan Eintracht Frankfurt. Hasil tersebut memberi Frankfurt keunggulan gol tandang yang cukup signifikan. Maka, di leg kedua yang digelar di Deutsche Bank Park, Frankfurt, Ajax harus berjuang keras untuk membalikkan keadaan dan berharap mencetak gol lebih banyak daripada tuan rumah.
Namun, harapan Ajax untuk bangkit terganjal oleh performa buruk mereka. Pasukan pelatih John Heitinga itu tidak mampu menghadapi intensitas permainan Frankfurt yang sangat tinggi. Sebaliknya, tuan rumah bermain dengan sangat efisien dan mampu memanfaatkan peluang yang ada dengan sangat baik. Hasil akhirnya adalah kemenangan telak 4-1 bagi Eintracht Frankfurt, yang memastikan mereka lolos ke perempat final Liga Europa dengan agregat 5-2.
Pergantian Pemain yang Tidak Membantu
Salah satu faktor yang turut memengaruhi kekalahan Ajax dalam laga ini adalah banyaknya pergantian pemain yang dilakukan oleh pelatih. Pada pertandingan tersebut, Heitinga melakukan rotasi besar-besaran dengan mengganti hampir setengah dari skuad utama yang tampil di leg pertama. Meskipun rotasi pemain sering kali menjadi pilihan yang bijak untuk menjaga kebugaran tim, keputusan tersebut kali ini tampaknya tidak membuahkan hasil yang diinginkan.
Banyak pemain cadangan yang tampil di Frankfurt kurang mampu bersaing dengan intensitas permainan tuan rumah. Beberapa pemain baru yang diturunkan tidak berhasil mengimbangi kecepatan dan kekuatan fisik Frankfurt, serta gagal menciptakan peluang berbahaya untuk tim. Gaya permainan Ajax yang biasanya cepat dan mengandalkan penguasaan bola pun menjadi kacau, karena para pemain pengganti tidak dapat menjalankan strategi tersebut dengan efektif.
Beberapa pemain utama seperti Steven Berghuis dan Davy Klaassen juga tampil jauh di bawah ekspektasi, yang semakin memperburuk situasi Ajax di lapangan. Kehilangan keseimbangan dalam lini tengah dan lemahnya lini belakang yang terlalu mudah ditembus lawan menjadi masalah utama yang membuat Ajax kesulitan sepanjang pertandingan.
Serangan Frankfurt yang Efektif
Di sisi lain, Eintracht Frankfurt tampil sangat klinis dalam memanfaatkan peluang. Dengan permainan cepat yang dimotori oleh pemain seperti Randal Kolo Muani dan Daichi Kamada, Frankfurt berhasil mengeksploitasi kelemahan pertahanan Ajax. Kolo Muani mencetak gol pertama pada menit ke-12, yang memberi mereka keuntungan besar di leg kedua. Setelah itu, Frankfurt terus menekan dan akhirnya menggandakan keunggulan mereka lewat gol dari Kamada yang memanfaatkan umpan dari Filip Kostić.
Ajax mencoba bangkit setelah tertinggal, namun gol yang dicetak oleh Mohammed Kudus pada menit ke-60 sempat memberi secercah harapan bagi tim tamu. Namun, harapan tersebut hanya bertahan sejenak, karena Frankfurt segera membalas dengan dua gol tambahan dari Kolo Muani dan Tuta yang membuat skor menjadi 4-1.
Dengan agregat 5-2, Ajax tidak lagi memiliki peluang untuk membalikkan keadaan. Mereka harus mengakui keunggulan Frankfurt yang tampil lebih solid dan lebih tajam di lini serang. Kekalahan ini mengakhiri perjalanan Ajax di Liga Europa musim ini dan memaksa mereka untuk kembali fokus pada kompetisi domestik, Eredivisie, yang juga sedang berjalan ketat.
Evaluasi dan Masa Depan Ajax
Kekalahan ini menjadi tamparan bagi Ajax yang berharap lebih di Liga Europa musim ini. Meski mereka memiliki sejarah panjang di kompetisi Eropa, Ajax tampaknya masih perlu melakukan evaluasi mendalam mengenai skuad dan strategi permainan mereka. Rotasi pemain yang tidak efektif, serta penampilan buruk beberapa pemain kunci, menunjukkan bahwa tim ini masih belum menemukan stabilitas yang diinginkan.
Bagi pelatih John Heitinga, ini adalah ujian besar untuk masa depannya di Ajax. Keputusan-keputusan yang diambil dalam pertandingan ini akan menjadi bahan evaluasi untuknya, terutama dalam hal manajemen rotasi dan kesiapan tim menghadapi tekanan di laga-laga besar.
Ajax kini harus fokus pada tujuan mereka di Eredivisie, yang masih memungkinkan mereka untuk meraih gelar domestik. Meski begitu, perjalanan mereka di kompetisi Eropa tahun ini harus ditutup dengan rasa kecewa, mengingat mereka tersingkir dengan cara yang cukup telak dari Liga Europa.