fbpx

Dari Tiongkok ke Eropa: Perjalanan Sejarah Sepatu Cinderella dalam Mitologi Dunia

Sepatu Cinderella bukan sekadar benda dalam dongeng, melainkan simbol perjalanan panjang kisah rakyat yang telah melintasi budaya, benua, dan waktu. Sepatu itu—yang dalam versi Eropa dikenal sebagai sepatu kaca—mewakili transformasi, keajaiban, dan identitas sejati seorang tokoh yang selama hidupnya dipinggirkan dan diabaikan. Namun di balik kilauan magisnya, terdapat akar sejarah dan variasi cerita yang kaya dari berbagai belahan dunia.

Salah satu versi tertua dari cerita serupa Cinderella berasal dari Tiongkok sekitar abad ke-9. Tokohnya bernama Ye Xian, seorang gadis baik hati yang dianiaya ibu tiri dan saudara tirinya. Dalam kisah ini, sepatu yang ia kenakan terbuat dari emas dan memikat perhatian raja setelah ia kehilangannya dalam sebuah perayaan. Kisah Ye Xian menyampaikan pesan bahwa kebaikan hati dan ketekunan akan membawa keberuntungan, nilai yang juga ditemukan dalam versi-versi Cinderella lainnya di berbagai budaya.

Ketika cerita ini menyebar ke Barat, khususnya https://thesilit.com/id/ Eropa, ia mengalami banyak perubahan. Versi paling berpengaruh ditulis oleh Charles Perrault pada akhir abad ke-17 di Prancis. Di sinilah sepatu emas atau permata berubah menjadi sepatu kaca, mungkin karena kesalahan terjemahan atau pilihan artistik untuk menekankan kerapuhan dan keunikan sang tokoh. Sepatu kaca menjadi simbol kekuatan tak terlihat, sesuatu yang hanya bisa cocok pada pemiliknya yang sejati, menandakan jati diri dan keistimewaan yang selama ini tersembunyi.

Seiring waktu, kisah ini diadaptasi dalam berbagai versi dan media, dari Grimm bersaudara hingga produksi film modern. Namun jejak perjalanannya dari Timur ke Barat tetap menjadi bukti bahwa dongeng seperti Cinderella bukan hanya cerita anak-anak, melainkan refleksi budaya yang terus berkembang dan menyatukan nilai-nilai universal melalui simbol sederhana: sepasang sepatu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *