Jejak Kaki di Lumpur Sawah
Tak ada alas kaki mahal, tak ada ijobet lantai marmer mengkilap—hanya tanah basah dan lumpur yang menyambut kaki-kaki telanjang para petani. Di hamparan sawah yang luas dan terbuka, setiap jejak kaki adalah kisah. Kisah tentang kerja keras, pengorbanan, dan harapan yang tumbuh di bawah sinar matahari.
Sejak fajar menyingsing, para petani sudah turun ke sawah. Langkah pertama mereka di atas lumpur bukan hanya tentang menginjak tanah, tetapi menyatu dengan alam. Lumpur itu dingin, lengket, dan berat. Tapi bagi mereka, itu bukan rintangan, melainkan bagian dari rutinitas yang suci. Tanah itu tempat mereka bergantung, dan lumpur adalah medan pertempuran mereka yang sesungguhnya.
Di balik jejak-jejak kaki yang tertinggal, ada tekad yang kuat. Tidak ada yang glamor dari pekerjaan ini, tapi tanpa mereka, takkan ada nasi di piring kita. Tanpa keringat mereka yang meresap ke tanah, kita mungkin lupa betapa berharganya sebutir beras.
Namun, jejak kaki di lumpur sawah kini semakin jarang terlihat. Banyak anak muda memilih kota dan meninggalkan ladang. Mereka tak ingin kakinya kotor, padahal dari kotor itulah kehidupan tumbuh. Sawah-sawah mulai kosong, berubah jadi perumahan atau pabrik. Generasi baru lupa, bahwa mereka dulu besar dari hasil panen yang disiram oleh keringat orang tuanya.
Tapi masih ada yang bertahan. Mereka yang memilih tetap memijak lumpur, bukan karena tak punya pilihan, tapi karena punya keyakinan. Bahwa sawah bukan cuma ladang, tapi warisan. Bahwa lumpur bukan hanya tanah basah, tapi bagian dari jati diri.
Jejak kaki di lumpur sawah mengajarkan kita arti kerja keras yang sesungguhnya. Bukan tentang gaji besar atau ruangan ber-AC, tapi tentang dedikasi tanpa pamrih. Tentang percaya bahwa setiap benih yang ditanam, jika disertai niat baik dan usaha sungguh-sungguh, akan tumbuh jadi kehidupan.
Di dunia yang makin cepat dan serba bersih, mari jangan lupa memaknai kotor. Karena kadang, dari kotor itulah tumbuh yang paling murni.