PBB Ingatkan Banyak yang Akan Meninggal karena AS Pangkas Bantuan Kemanusiaan
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) baru-baru ini mengeluarkan Rtp Trisula88 peringatan keras mengenai dampak serius dari pemangkasan bantuan kemanusiaan oleh Amerika Serikat. Dalam pernyataan resmi yang dirilis oleh berbagai badan PBB, termasuk Program Pangan Dunia (WFP) dan Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), disebutkan bahwa keputusan Washington untuk mengurangi pendanaan akan berakibat fatal, terutama bagi jutaan orang di wilayah konflik dan krisis pangan.
Menurut PBB, pemangkasan dana bantuan ini terjadi di tengah situasi darurat global yang semakin memburuk. Bencana alam, perubahan iklim, konflik bersenjata, dan krisis ekonomi telah memperburuk kondisi kehidupan di banyak negara berkembang. Amerika Serikat, yang selama ini merupakan salah satu donor terbesar untuk program-program kemanusiaan, memainkan peran krusial dalam menjaga ketahanan pangan, layanan kesehatan, dan pendidikan di daerah-daerah yang paling rentan.
Dampak Langsung ke Negara-Negara Tertentu
Beberapa negara yang paling terdampak akibat pengurangan bantuan ini antara lain Yaman, Sudan, Ethiopia, Suriah, dan Afghanistan. Di Yaman, misalnya, lebih dari 17 juta orang mengandalkan bantuan pangan dari komunitas internasional untuk bertahan hidup. Pemangkasan dana menyebabkan WFP harus memangkas jatah makanan hingga setengahnya bagi banyak penerima bantuan.
Di Sudan, yang saat ini tengah dilanda konflik bersenjata dan krisis kemanusiaan, kekurangan dana menyebabkan penundaan distribusi bantuan penting. Ribuan keluarga terpaksa hidup tanpa pasokan air bersih, makanan bergizi, dan layanan kesehatan yang memadai.
“Ini bukan hanya soal kekurangan logistik, tetapi soal nyawa,” ujar Martin Griffiths, Kepala OCHA. “Tanpa pendanaan yang memadai, kami tidak bisa menjangkau mereka yang paling membutuhkan. Ini berarti anak-anak yang kelaparan tidak akan mendapat makanan, ibu hamil tidak akan mendapat perawatan, dan keluarga-keluarga tidak akan memiliki tempat berlindung.”
AS Hadapi Tekanan Politik Domestik
Langkah Amerika Serikat ini diyakini berkaitan dengan tekanan anggaran dalam negeri dan perubahan prioritas kebijakan luar negeri. Beberapa anggota Kongres telah menyerukan pengurangan belanja internasional untuk mengalihkan dana ke masalah domestik seperti kesehatan, pendidikan, dan keamanan perbatasan.
Namun, para kritikus menyebut langkah ini sebagai pendekatan jangka pendek yang bisa menimbulkan konsekuensi jangka panjang. “Ketika kita menarik dukungan dari masyarakat yang rentan, kita menciptakan ruang bagi ketidakstabilan, ekstremisme, dan krisis yang akhirnya bisa memengaruhi keamanan global—termasuk keamanan Amerika sendiri,” kata Samantha Power, Administrator USAID.
Panggilan untuk Solidaritas Global
PBB menyerukan agar negara-negara donor lainnya meningkatkan kontribusi mereka untuk menutup celah pendanaan yang ditinggalkan oleh Amerika Serikat. Beberapa negara seperti Jerman, Swedia, dan Kanada telah berkomitmen menambah anggaran kemanusiaan mereka, meskipun belum cukup untuk menutupi keseluruhan kebutuhan.
“Ini saatnya solidaritas global diuji,” kata Sekretaris Jenderal PBB António Guterres. “Kami tidak bisa membiarkan masyarakat di garis depan krisis ditinggalkan begitu saja karena dinamika politik dalam negeri di negara-negara maju.”
Risiko Jangka Panjang
Pemangkasan bantuan bukan hanya berdampak pada krisis kemanusiaan saat ini, tetapi juga berisiko menghancurkan kemajuan pembangunan yang telah dicapai selama bertahun-tahun. Banyak program yang ditujukan untuk meningkatkan ketahanan masyarakat lokal terhadap bencana, memperkuat layanan kesehatan, dan memberdayakan perempuan kini terancam berhenti beroperasi.
Menurut laporan WFP, setiap satu dolar yang diinvestasikan dalam pencegahan kelaparan bisa menghemat lebih dari tujuh dolar dalam penanganan krisis di masa depan. Dengan demikian, mengurangi bantuan kemanusiaan bukan hanya tidak manusiawi, tetapi juga tidak efisien secara ekonomi.
Harapan dari Masyarakat Sipil
Organisasi-organisasi non-pemerintah (NGO) dan masyarakat sipil di seluruh dunia menyerukan petisi dan kampanye untuk menekan pemerintah AS agar meninjau kembali keputusan mereka. Beberapa tokoh masyarakat, termasuk pemimpin agama dan aktivis kemanusiaan, juga turut menyuarakan keprihatinan atas dampak kemanusiaan yang ditimbulkan.
“Kita semua punya tanggung jawab moral untuk tidak membiarkan jutaan orang mati kelaparan hanya karena politik anggaran,” kata David Beasley, mantan Direktur Eksekutif WFP. “Kita memiliki sumber daya. Yang kita butuhkan adalah kemauan politik dan rasa kemanusiaan.”
Kesimpulan
Pemangkasan bantuan kemanusiaan oleh Amerika Serikat memicu kekhawatiran besar di tingkat global. Dengan jutaan nyawa berada di ambang kematian, PBB menyerukan tindakan cepat dan solidaritas internasional. Tanpa upaya bersama untuk mengisi kekosongan dana yang ditinggalkan, dunia bisa menghadapi krisis kemanusiaan yang lebih parah—dan pada akhirnya, konsekuensinya akan dirasakan semua pihak, tanpa terkecuali.